Jeda sejenak.


Ibu sakit.

Aku berhenti sejenak dari semuanya, tidak membuat plan apapun, tidak melanjutkan pekerjaan tetap, menjeda karirku, tetap di Bogor, tidak bepergian atau menyelam lagi, dan memilih untuk jeda sejenak. Aku masih mencerna ini semua. Beruntung aku masih bisa bekerja freelance bersama beberapa teman yang masih fulltime di ahensi, sehingga meski kebanyakan ada di rumah (dan rumah sakit), pikiranku masih dapat dibagi dengan KPI campaign yang sedang berjalan, meski kadang aku absen dan meminta tim lain yang mengerjakannya.

Dari jeda ini aku menyadari beberapa hal yang selama ini aku lalui, bahwa aku mendapatkan banyak kebaikan, kemudahan juga keberuntungan dalam hidup. Aku tidak membayangkan bahwa bisa terbang ke berbagai negara adalah hal yang luar biasa karena tidak semua orang bisa merasakan pergi keluar negri, bahkan juga menyadari betapa banyak masyarakat berpenghasilan rendah yang untuk membeli makan tiga kali sehari saja belum tentu cukup. Aku juga perlu diingatkan bahwa menyelam ke dasar lautan adalah pengalaman yang sangat berharga dan tidak banyak orang yang bisa melakukannya, sedangkan aku sudah puluhan kali melakukannya.

Temenku juga menuliskan ini: Kadang dalam hidup, memang kita tuh konon bakal ketemu momen dimana kita bener-bener clueless ngadepin ini semua, karena memang harus dilalui aja. Lo saat ini lagi mode survival dan hopeless itu perasaan manusia, makanya kenapa katanya baiknya kita serahin aja semuanya sama Allah karena memang secapek itu mikirin dan ngadepin itu sendirian. Memang prakteknya ga segampang itu, makanya butuh satu kesadaran khusus kalau yg bakal jadi penolong manusia itu ya cuma dua: sabar dan shalat.

This too shall pass, koy. Hang on theree!!

Ada juga temanku yang berkata bahwa hidupku sebenarnya hidup yang diimpikan oleh banyak orang, aku bisa bekerja dari manapun tanpa harus pergi ke kantor, meski kini tidak memiliki jabatan yang keren setidaknya penghasilannya masih sangat cukup untuk untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan tentu banyak hal lainnya yang ternyata semua itu adalah luar biasa. Ah, rasanya punya teman-teman yang baik pun jadi sebuah rejeki tersendiri.

Entah bagaimana kedepannya, sekarang adalah waktunya jeda sejenak. Rasanya aku mau menanamkan pikiran kepada diriku bahwa tidak apa untuk berhenti dahulu, aku masih punya tempat tinggal yang layak dan makanan yang cukup untuk esok, itu sudah lebih dari cukup.

1 Comments

  1. This too shall pass, koy. Hang on theree!!

    ReplyDelete

Tinggalkan komentarmu disini...

© All Rights Reserved. 2024 . Template by OddThemes